Berawal dari Hobi, Usaha Tas Tenun Batik Indari Tembus Pasar Korporat dan Internasional

A bustling market in Agats, Papua, showcasing traditional woven crafts and community life.

Hobi mengoleksi tas menjadi titik awal perjalanan bisnis Indari dalam membangun usaha tas tenun batik bernama La Suntu Tastio. Berawal dari ide menggabungkan kain tradisional seperti batik dan tenun dengan desain tas modern pada tahun 2010, usahanya kini berkembang menjadi pemasok suvenir bagi berbagai instansi pemerintah, perusahaan, hingga BUMN.

Awalnya, Indari hanya membuat tas untuk koleksi pribadi dan dibawa ke berbagai acara. Namun, desain unik yang memadukan tenun, batik, dan bahan sintetis menarik perhatian banyak orang hingga akhirnya ia mulai menerima pesanan melalui sistem pre-order. Seiring meningkatnya permintaan, bisnis tersebut terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Untuk menjaga kualitas produk, Indari bekerja sama dengan para perajin tenun dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai pemasok bahan baku utama. Ia juga mendaftarkan merek La Suntu Tastio ke Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan aktif mengikuti berbagai pelatihan pengembangan usaha.

Perkembangan bisnisnya semakin pesat setelah bergabung dengan program Rumah BUMN BRI pada 2018. Melalui berbagai pelatihan, pendampingan, serta akses jaringan yang lebih luas, usahanya mulai mendapatkan pesanan suvenir dalam jumlah besar dari instansi pemerintah dan perusahaan. Bahkan, salah satu pesanan yang pernah ditangani mencapai ribuan unit untuk kebutuhan korporasi nasional.

Kini, La Suntu Tastio memproduksi berbagai jenis tas dan suvenir dengan rentang harga yang beragam, mulai dari produk sederhana hingga paket premium. Selain melayani pasar domestik, produknya juga telah diperkenalkan ke berbagai negara melalui pameran internasional di Korea Selatan, Filipina, Singapura, dan Malaysia.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pembinaan dan pendampingan usaha dapat membantu UMKM meningkatkan kapasitas bisnis, memperluas pasar, serta membuka peluang ekspor ke tingkat global.

Intinya, usaha yang berawal dari hobi ini berhasil berkembang menjadi bisnis suvenir berskala nasional hingga internasional berkat inovasi produk, kolaborasi dengan perajin lokal, dan dukungan program pemberdayaan UMKM.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *