Jakarta – Berawal dari kesulitan mencari oleh-oleh khas Betawi, Umairoh berhasil membangun Neng Mae, sebuah usaha mikro yang kini dikenal sebagai produsen jajanan tradisional Betawi dengan penjualan hingga ratusan juta rupiah per bulan.
Inspirasi mendirikan usaha ini muncul beberapa tahun lalu saat Umairoh hendak mengunjungi kampung halaman suaminya di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Sebagai perempuan yang lahir dan besar di lingkungan Betawi, ia ingin membawa buah tangan khas Jakarta. Namun, di luar musim Lebaran, jajanan tradisional Betawi ternyata tidak mudah ditemukan.
Karena sulit mendapatkannya, Umairoh meminta sang ibu membuatkan akar kelapa, salah satu camilan khas Betawi. Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan sederhana, yakni mengapa masyarakat Jakarta sendiri kesulitan memperoleh oleh-oleh khas daerahnya. Dari keresahan itulah lahir ide mendirikan Neng Mae.
Sebelum memulai usaha, Umairoh lebih dulu memastikan bahwa masalah tersebut juga dirasakan banyak orang. Setelah berdiskusi dengan sejumlah teman yang merantau, ia semakin yakin bahwa oleh-oleh khas Jakarta memang sulit ditemukan. Bersama suaminya, ia kemudian mendirikan Neng Mae pada 2019.
Produk pertama yang dipasarkan adalah akar kelapa dengan resep turun-temurun dari ibunya. Tak lama kemudian, ia menggandeng warga sekitar untuk memproduksi kacang ngumpet sebagai tambahan varian produk.
Pada masa awal usaha, omzet yang diperoleh masih sekitar Rp5 juta per bulan. Meski nilainya belum besar, Umairoh tetap optimistis mengembangkan bisnis dengan mengikuti berbagai bazar. Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil hingga pendapatan meningkat menjadi sekitar Rp10 juta setiap bulan.
Perjalanan usaha sempat terganggu ketika pandemi Covid-19 melanda. Aktivitas penjualan menurun drastis dan Neng Mae hanya melayani pesanan berdasarkan sistem pre-order. Selama hampir dua tahun, usaha tersebut bertahan di tengah kondisi yang penuh tantangan.
Memasuki 2021, Umairoh melakukan pembenahan melalui rebranding. Salah satu perubahan penting adalah mengganti kemasan produk dari tabung menjadi pouch yang lebih kuat setelah sebelumnya mengalami kerusakan saat proses pengiriman.
Di saat yang sama, pilihan produk juga semakin beragam. Selain akar kelapa dan kacang ngumpet, Neng Mae mulai memproduksi biji ketapang, kembang goyang mini, rengginang mini, hingga kue arisah. Mereka juga menggandeng UMKM lain untuk melengkapi pilihan oleh-oleh khas Betawi seperti bir pletok dan dodol.
Meski inovasi terus dilakukan, pertumbuhan usaha belum langsung melesat. Omzet perlahan naik dari sekitar Rp10 juta menjadi Rp20 juta, kemudian Rp30 juta pada 2023 dan sekitar Rp40 juta pada tahun berikutnya.
Di balik peningkatan tersebut, tantangan baru muncul ketika Umairoh dan suaminya memutuskan menyewa toko fisik di Rorotan. Biaya operasional yang semakin besar membuat kondisi keuangan usaha kembali tertekan, bahkan sempat muncul rencana untuk mengurangi jumlah karyawan.
Di tengah situasi tersebut, Umairoh mengambil keputusan besar dengan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan pada 2025 agar dapat fokus mengembangkan Neng Mae.
Berbekal pengalaman sebagai business intelligence analyst, ia mulai mendalami strategi penjualan melalui platform e-commerce, khususnya Shopee. Ia mempelajari algoritma, perilaku konsumen, efektivitas iklan, hingga memanfaatkan data dari Seller Dashboard sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis.
Strategi berbasis data tersebut membawa perubahan signifikan. Omzet Neng Mae meningkat sekitar 300 persen, dari kisaran Rp25–30 juta menjadi hampir Rp90 juta per bulan. Pada September 2025, usaha tersebut berhasil mencatat omzet lebih dari Rp100 juta untuk pertama kalinya.
Saat ini, pendapatan bulanan Neng Mae relatif stabil di kisaran Rp100 juta hingga Rp125 juta. Ketika memasuki Ramadan dan Lebaran, omzet bahkan dapat mencapai Rp160 juta hingga Rp180 juta.
Peningkatan permintaan juga berdampak pada kapasitas produksi. Jika pada hari biasa setiap varian diproduksi sekitar 10–20 kilogram per pekan, saat musim ramai jumlahnya meningkat menjadi 50–70 kilogram.
Sebagian besar penjualan kini berasal dari kanal digital dengan kontribusi sekitar 50–60 persen, sementara sisanya diperoleh melalui toko fisik dan pesanan dalam jumlah besar dari perusahaan maupun instansi.
Menurut Umairoh, data menjadi alat penting dalam mengembangkan usaha. Informasi mengenai performa produk, efektivitas promosi, hingga waktu transaksi pelanggan membantu menentukan strategi pemasaran dan operasional yang lebih tepat.
Tak hanya berkembang di dalam negeri, produk Neng Mae juga telah dikirim ke Jepang dan Malaysia melalui pesanan dalam jumlah besar. Saat ini mereka tengah memperluas peluang ekspor melalui program Shopee Export yang dinilai mempermudah proses penjualan ke luar negeri.
Di balik pertumbuhan bisnis tersebut, Neng Mae turut memberdayakan masyarakat sekitar. Sekitar 12 orang kini terlibat dalam proses produksi, termasuk Mala yang sejak awal membantu membuat kacang ngumpet. Dari rumah produksi sederhana di Rorotan, mereka menghasilkan jajanan tradisional yang kini telah menembus pasar internasional.
Bagi Umairoh, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya omzet, tetapi juga dari manfaat yang dapat dirasakan masyarakat sekitar melalui terbukanya lapangan pekerjaan.
Ke depan, ia memiliki cita-cita menjadikan Neng Mae sebagai ikon oleh-oleh khas Jakarta. Selain memperluas distribusi ke ritel modern dan hotel, ia juga berharap dapat membuka toko di pusat kota agar produk khas Betawi semakin mudah dijangkau wisatawan.
Dari sebuah sudut di Rorotan, perjalanan Neng Mae membuktikan bahwa jajanan tradisional tidak hanya mampu melestarikan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar menjadi bisnis yang berkembang di era digital.
