GPEI Bali Soroti Penurunan Ekspor dan Perubahan Peran UMKM Jadi Trader Impor

Explore an array of handcrafted wicker baskets and furniture in Weweldeniya, showcasing Sri Lankan craftsmanship.

Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Bali menyoroti terjadinya penurunan nilai ekspor di wilayah Bali dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dinilai dipengaruhi oleh situasi geopolitik global yang menyebabkan biaya logistik meningkat tajam, sekaligus perubahan pola usaha UMKM yang kini lebih banyak berperan sebagai pedagang barang impor dibanding memproduksi produk lokal sendiri.

Ketua GPEI Bali periode 2026–2031, Anak Agung Ngurah Aditnya Pradnyana Sunu, menjelaskan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, nilai ekspor Bali secara year on year mengalami penurunan sekitar 17 persen. Penurunan tersebut terutama terjadi pada pasar utama seperti Amerika Serikat dan Jerman, khususnya di sektor produk kelautan atau marine product.

Menurutnya, tingginya biaya logistik menjadi salah satu faktor terbesar yang memengaruhi melemahnya ekspor Bali. Situasi geopolitik dunia yang belum stabil membuat biaya pengiriman barang meningkat sehingga berdampak pada daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional.

Selain persoalan ekspor, GPEI Bali juga menyoroti meningkatnya angka impor yang berjalan seiring dengan aktivitas perdagangan di daerah. Banyak pelaku UMKM saat ini dinilai lebih memilih menjadi trader atau pedagang barang impor daripada membangun usaha produksi sendiri.

Aditya menjelaskan bahwa banyak UMKM membeli barang jadi dengan harga murah dari luar negeri, khususnya dari China, lalu menjual kembali di pasar domestik untuk memperoleh keuntungan. Kondisi tersebut terjadi karena biaya produksi di dalam negeri masih dinilai lebih tinggi dibanding mendatangkan produk jadi dari luar negeri.

Padahal, menurutnya, apabila UMKM lebih banyak berperan sebagai produsen lokal, dampaknya terhadap perekonomian nasional akan jauh lebih besar. Usaha produksi dinilai mampu menciptakan rantai ekonomi yang lebih luas, mulai dari penggunaan bahan baku lokal, penyerapan tenaga kerja, hingga peningkatan devisa negara dari hasil ekspor.

Ia juga menekankan pentingnya pembangunan ekosistem hilirisasi industri yang lebih matang agar sektor produksi dalam negeri menjadi lebih kompetitif. Dukungan terhadap bahan baku lokal, teknologi, dan informasi dinilai menjadi faktor penting agar produk Indonesia mampu bersaing di pasar internasional.

Melalui penguatan sektor produksi dan hilirisasi industri, diharapkan UMKM Indonesia tidak hanya berperan sebagai pedagang, tetapi juga mampu menjadi produsen yang menciptakan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian daerah maupun nasional.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *