Garut – Keputusan kedai mie Biangmie di Garut, Jawa Barat, untuk menghentikan operasionalnya secara permanen belakangan menjadi perhatian publik. Di balik kabar penutupan tersebut, tersimpan kisah perjuangan sebuah usaha keluarga yang harus menghadapi tekanan biaya operasional dan melemahnya daya beli masyarakat.
Pemilik Biangmie, Nasir, menceritakan bahwa keluarganya telah berkecimpung dalam usaha pembuatan mi mentah sejak era 1990-an. Berbekal pengalaman tersebut, ia kemudian mengembangkan bisnis keluarga dengan membuka kedai Biangmie pada 2024 yang menyajikan mi siap santap menggunakan resep racikannya sendiri.
Menurut Nasir, seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri, mulai dari pembuatan mi hingga pengolahan setiap menu yang disajikan kepada pelanggan. Konsep tersebut diharapkan mampu menghadirkan cita rasa khas sekaligus mempertahankan kualitas produk.
Namun, perjalanan usaha tidak berjalan sesuai harapan. Dalam beberapa bulan terakhir, lonjakan harga bahan baku menjadi tantangan utama yang harus dihadapi. Di sisi lain, Biangmie tetap berupaya memberikan upah kepada karyawan sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga beban operasional semakin meningkat.
Untuk menyesuaikan biaya produksi, pihaknya sempat menaikkan harga menu sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000. Akan tetapi, kebijakan tersebut justru memunculkan respons kurang positif dari sebagian pelanggan. Beberapa di antaranya mengeluhkan kenaikan harga hingga memberikan ulasan negatif.
Nasir menilai persoalan yang dihadapi pelaku usaha kuliner saat ini tidak hanya berkaitan dengan naiknya harga bahan baku, tetapi juga menurunnya daya beli masyarakat, khususnya di wilayah Garut. Di tengah kondisi tersebut, pelanggan tetap mengharapkan kualitas makanan yang tinggi, sementara kemampuan belanja mereka semakin terbatas.
Kondisi itu akhirnya mendorong Nasir mengambil keputusan berat untuk menutup Biangmie, meski usahanya telah memiliki pelanggan setia. Ia mengaku belum memiliki rencana membuka kembali usaha tersebut dalam waktu dekat.
Meski demikian, Nasir tidak menutup kemungkinan untuk kembali merintis usaha apabila kondisi ekonomi membaik dalam beberapa tahun mendatang dan tersedia modal yang cukup.
Kisah Biangmie menjadi potret tantangan yang tengah dihadapi banyak pelaku UMKM kuliner. Kenaikan biaya produksi, tingginya beban operasional, serta melemahnya daya beli masyarakat menjadi kombinasi tantangan yang memengaruhi keberlangsungan usaha, termasuk bagi bisnis yang telah memiliki pelanggan loyal.
