LPPOM Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Festival Syawal, Perkuat Rantai Halal dari Hulu ke Hilir

Crowded street market scene with diverse individuals engaging in street food trade, highlighting urban life.

LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika) kembali menegaskan perannya sebagai penggerak utama ekosistem halal nasional melalui penyelenggaraan Festival Syawal 1447 H. Sejak pertama kali digelar pada 2021, program ini berfokus mendorong UMKM untuk berkembang dan “naik kelas” melalui sertifikasi halal, edukasi, serta penguatan rantai pasok.

Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, menekankan bahwa Festival Syawal bukan sekadar kegiatan seremonial pasca-Ramadan, melainkan bagian dari upaya pemberdayaan UMKM secara menyeluruh agar memiliki daya saing yang lebih kuat. Hingga 2025, program ini telah memberikan edukasi kepada hampir 10.000 peserta dan membantu lebih dari 1.500 UMKM dalam proses sertifikasi halal.

Pada tahun ini, Festival Syawal mengusung tema “Toko Bahan Baku Halal, Langkah Awal Menuju UMKM Tangguh”. Tema tersebut dipilih karena masih banyak pelaku usaha yang menghadapi kendala dalam memperoleh bahan baku yang terjamin kehalalannya.

LPPOM menilai bahwa penguatan sektor hilir tidak akan optimal tanpa dukungan dari sektor hulu, terutama ketersediaan bahan baku halal. Oleh karena itu, LPPOM mulai menginisiasi pengembangan toko bahan baku halal di berbagai daerah, salah satunya melalui proyek percontohan toko daging halal di Bogor, serta rencana ekspansi ke wilayah lain. Selain itu, LPPOM juga memfasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku usaha penyedia bahan baku.

Meski demikian, tingkat pemanfaatan fasilitas tersebut masih belum maksimal, yang menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya sertifikasi halal di kalangan penyedia bahan baku masih perlu ditingkatkan. Sepanjang rangkaian festival tahun ini, LPPOM juga telah memberikan edukasi halal kepada lebih dari 1.500 peserta dan menggandeng berbagai pihak, termasuk perbankan syariah, untuk mendukung pembiayaan dan akses pasar.

Langkah ini mendapat apresiasi dari Menteri Perdagangan Budi Santoso yang menilai kegiatan tersebut penting dalam memperkuat posisi Indonesia di ekonomi syariah global. Berdasarkan laporan global 2025, Indonesia berada di peringkat ketiga dunia dalam sektor ekonomi Islam dengan nilai ekspor halal mencapai USD 64,42 miliar.

Sementara itu, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hassan menyoroti masih besarnya peluang pengembangan produk halal, mengingat dari sekitar 64 juta produk yang beredar, baru 24 juta yang telah bersertifikat halal. Dari sisi ulama, M. Cholil Nafis juga menekankan pentingnya proses audit yang ketat dalam penetapan halal, mengingat semakin kompleksnya produk pangan modern.

Dukungan terhadap penguatan ekosistem halal juga datang dari Kementerian Koperasi yang melihat koperasi sebagai elemen strategis dalam rantai pasok halal. Dengan jumlah koperasi desa yang besar, potensi integrasi ke dalam ekosistem halal dinilai sangat terbuka.

Sebagai lembaga pemeriksa halal pertama di Indonesia sejak 1988, LPPOM melalui Festival Syawal berkomitmen untuk terus memperkuat keterhubungan rantai halal dari hulu hingga hilir. Sertifikasi halal pun tidak hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang dalam membangun kepercayaan dan keberlanjutan usaha.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *