Pertamina Perkuat Pertumbuhan UMKM Batik di Berbagai Daerah

Jakarta, 3 Oktober 2026 — PT Pertamina (Persero) terus berupaya mendukung perkembangan UMKM batik di berbagai wilayah Indonesia. Upaya tersebut dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober. Hingga saat ini, tercatat 428 UMKM batik yang mendapatkan pembinaan dari Pertamina.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan bahwa batik tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Menurutnya, pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha.

Pertamina juga berupaya memberikan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, untuk mengembangkan keterampilan, mendapatkan penghasilan, serta membangun usaha yang lebih mandiri.

Batik sendiri tidak hanya memiliki nilai dari motif dan warna yang dihasilkan. Di balik proses pembuatannya terdapat keterampilan, kreativitas, dan usaha para pengrajin untuk menciptakan sumber penghidupan. Hal tersebut menjadi salah satu alasan Pertamina terus memberikan pembinaan kepada UMKM yang bergerak di bidang kerajinan batik.

Pendampingan yang diberikan Pertamina meliputi peningkatan kemampuan dan kapasitas usaha, pengembangan produk, hingga membantu memperluas akses pasar. Program tersebut diharapkan dapat membuat UMKM batik lebih berkembang dan mampu menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas.

Selain mendorong pertumbuhan bisnis, pembinaan UMKM batik juga menjadi salah satu upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif. Sejumlah UMKM binaan Pertamina telah melibatkan penyandang disabilitas dalam kegiatan produksinya sehingga mereka dapat ikut berkontribusi sekaligus memperoleh kesempatan kerja.

Salah satu contohnya adalah Roona Batik yang berada di Bantul, Yogyakarta dan dikelola oleh Muhammad Syauki. Usaha tersebut kini telah berkembang menjadi bisnis fesyen dengan kemampuan produksi sekitar 5.000 lembar batik setiap bulan dan omzet yang mencapai sekitar Rp100 juta per bulan.

Roona Batik juga menerapkan prinsip inklusivitas dalam kegiatan usahanya. Dari total 18 pekerja, beberapa di antaranya merupakan penyandang disabilitas yang turut terlibat dalam proses produksi.

Melalui pembinaan dan pendampingan tersebut, Pertamina menunjukkan bahwa pengembangan UMKM batik tidak hanya berfokus pada peningkatan omzet atau kapasitas produksi, tetapi juga pada pelestarian budaya serta penciptaan kesempatan ekonomi yang lebih inklusif bagi masyarakat.

Ke depannya, dukungan terhadap UMKM batik di berbagai daerah diharapkan dapat membantu para pelaku usaha meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, serta mengembangkan bisnis secara berkelanjutan. Dengan demikian, batik dapat terus menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *